Minggu, 27 Mei 2012

Musik kearifan lokal



Tetap menghormati musik kearifan lokal...

Menurut Humas Asosiasi Produser dan Musisi Daerah (Aprosmuda), I Gusti Bagus Yoga Akasa, musik tradisional sasak, cilokaq masih tetap mendominasi pasar musik lokal. “Cilokaq masih berada di puncak untuk kategori album lokal,” ujarnya kepada Suara NTB.
Perkembangan industri musik di Lombok saat ini memang cukup baik. Musik yang paling laku di pasaran ialah musik tradisional Sasak, cilokaq. Disamping cilokaq, reggae merupakan salah satu musik yang berkembang pesat di Lombok dan banyak digemari. Tidak hanya di Lombok, di luar daerah Lombok juga terkenal dengan musik reggaenya.
Meski demikian, reggae tetap mempunyai tempat di hati para penggemar musik asal Jamaika tersebut. Belakangan ini juga muncul band-band lokal yang mengkhususkan diri bermain musik reggae. Menurut Yoga, populernya reggae karena musiknya riang yang membuat orang bergoyang dan menggerakkan badan.
“Karakter pecinta musik di  Lombok adalah lagu yang mereka suka lagu yang riang dan ngebeat, banyak sekali album gagal di pasaran karena mendayu-dayu. Reggae bisa diterima karena musiknya buat kita goyang,” terangnya.
Yoga menambahkan bahwa segmentasi musik reggae cenderung untuk kalangan menengah. Kepopuleran reggae di Lombok lanjut Yoga mulai sejak tahun 90-an. “Ada beberapa grup reggae fenomenal saat itu yang mengausai market di Senggigi. Sering main di Pondok Senggigi,” ujarnya.
Grup reggae pertama ialah Rosana. Selanjutnya muncul grup Amtenar yang albumnya Kau dan Warnamu laku 6.000 kopi dalam waktu tiga bulan. Selain Amtenar, ada juga D’JMBE Lombok Island dan Fege Band yang mengkhususkan diri bermain musik reggae. (yan)

Sumber: Reggae Belum Bisa Tandingi Cilokaq -- Mataram (Suara NTB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar