Selasa, 05 Juni 2012

PAHAMI REGGAe DAN RASTA

Jangan melihat Reggae dari rasta


Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,
reggae
dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama
genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah
sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad (23),
pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York
dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik ingar-bingar dan
kegembiraan
yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik
tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu
sendiri. "Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah
disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya
hidup
semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup
bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas.
Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging,
dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob
Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,"
papar Ras.

Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae
adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus
menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob
Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia—adalah seorang penganut
rasta.

Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia
sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya
pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. "Misalnya waktu
saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka
tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,"
ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.

Pemusik
Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama
Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba
memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu
hakikat filosofi, yakni cinta damai. "Yang saya ikuti cuma cinta damai
itu," tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu. Namun, meski tidak
memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan
pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik
yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae
(dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik
mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang
mengaku
musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan
penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada "berdamai". "Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil," tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja. Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. "Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum
dengan reggae," ujar Steven mantap. Sila dan Joni dari Bali menegaskan,
seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob
Marley. "Rasta sejati itu ada di dalam hati," tandas Sila sambil
mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.

Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,
reggae
dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama
genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah
sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad (23),
pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York
dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik ingar-bingar dan
kegembiraan
yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik
tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu
sendiri. "Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah
disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya
hidup
semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup
bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas.
Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging,
dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob
Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,"
papar Ras.

Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae
adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus
menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob
Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia—adalah seorang penganut
rasta.

Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia
sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya
pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. "Misalnya waktu
saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka
tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,"
ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.

Pemusik
Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama
Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba
memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu
hakikat filosofi, yakni cinta damai. "Yang saya ikuti cuma cinta damai
itu," tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu. Namun, meski tidak
memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan
pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik
yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae
(dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik
mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang
mengaku
musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan
penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada "berdamai". "Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil," tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja. Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. "Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum
dengan reggae," ujar Steven mantap. Sila dan Joni dari Bali menegaskan,
seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob
Marley. "Rasta sejati itu ada di dalam hati," tandas Sila sambil
mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.
kutipan"http://indoreggae.nicetopics.com/artikel-berita-tentang-reggae-f1/reggae-rasta-t27.htm"

Minggu, 27 Mei 2012

Sejarah Music African

 
Reggae adalah hasil dari evolusi dan perkembangan beberapa genre musik. Terutama berasal dari perkembangan progresif dari Rocksteady dan Ska pada akhir tahun 1960-an di Jamaica. Istilah Reggae diduga dipopulerkan oleh Frederick Hibbert 'Toots & Maytals' dalam lagunya yang berjudul “Do the Regay”, 1968.

Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik 
R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. 

Musik kearifan lokal



Tetap menghormati musik kearifan lokal...

Menurut Humas Asosiasi Produser dan Musisi Daerah (Aprosmuda), I Gusti Bagus Yoga Akasa, musik tradisional sasak, cilokaq masih tetap mendominasi pasar musik lokal. “Cilokaq masih berada di puncak untuk kategori album lokal,” ujarnya kepada Suara NTB.
Perkembangan industri musik di Lombok saat ini memang cukup baik. Musik yang paling laku di pasaran ialah musik tradisional Sasak, cilokaq. Disamping cilokaq, reggae merupakan salah satu musik yang berkembang pesat di Lombok dan banyak digemari. Tidak hanya di Lombok, di luar daerah Lombok juga terkenal dengan musik reggaenya.
Meski demikian, reggae tetap mempunyai tempat di hati para penggemar musik asal Jamaika tersebut. Belakangan ini juga muncul band-band lokal yang mengkhususkan diri bermain musik reggae. Menurut Yoga, populernya reggae karena musiknya riang yang membuat orang bergoyang dan menggerakkan badan.
“Karakter pecinta musik di  Lombok adalah lagu yang mereka suka lagu yang riang dan ngebeat, banyak sekali album gagal di pasaran karena mendayu-dayu. Reggae bisa diterima karena musiknya buat kita goyang,” terangnya.
Yoga menambahkan bahwa segmentasi musik reggae cenderung untuk kalangan menengah. Kepopuleran reggae di Lombok lanjut Yoga mulai sejak tahun 90-an. “Ada beberapa grup reggae fenomenal saat itu yang mengausai market di Senggigi. Sering main di Pondok Senggigi,” ujarnya.
Grup reggae pertama ialah Rosana. Selanjutnya muncul grup Amtenar yang albumnya Kau dan Warnamu laku 6.000 kopi dalam waktu tiga bulan. Selain Amtenar, ada juga D’JMBE Lombok Island dan Fege Band yang mengkhususkan diri bermain musik reggae. (yan)

Sumber: Reggae Belum Bisa Tandingi Cilokaq -- Mataram (Suara NTB)

Vespa dan Reggae

Vespa, kendaraan roda dua yang berasal dari negara Benito Mussolini ini memang memiliki keunikan tersendiri dan memiliki sejarah yang panjang sampai akhirnya kendaraan yang berarti “Tawon” dalam bahasa Italia tersebut mampu menembus berbagai negara, lapisan masyarakat, bahkan sampai mengintervensi kedalam budaya sampai menciptakan suatu sub-kultur tertentu. Salah satu contoh pembaurannya menjadi suatu bagian dari sub-kultur bisa dilihat dari stigmanya atas “kendaraannya para kaum Mods” atau sepeda motornya kaum Skinhead, khususnya di Inggris pada era ’60-an.
Pada era itu memang lumayan marak dijumpai para “mereka” yang sering berpenampilan dengan menggunakan jaket ala seorang penerbang, dengan sepatu bot Dr.Martens serta bergaya rambut pendek (malah cenderung botak) sehingga terkesan bergaya militan walaupun belum tentu semua karakteristik mereka seperti itu, apalagi mereka sering berkendara di jalan dengan menggunakan kendaraan yang notabene latar belakang kendaraan tersebut justru tercipta akibat “solusi pembayaran utang” Italia atas kekalahan mereka dalam Perang Dunia kedua.

Bigraphy Bob Marley

Robert Nesta Marley 

LAHIR: 6 Februari 1945, St Ann, Jamaika 
MENINGGAL: 11 Mei 1981, Miami, FL
Pada tahun 1944, Kapten Norval Marley menikahi seorang gadis muda bernama Cedalla Jamaika Booker. Pada tanggal 6 Februari 1945 di dua tiga puluh pagi anak mereka, Robert Nesta Marley lahir di rumah kakeknya. Segera setelah Bob lahir ayahnya meninggalkan ibunya. Namun dia memberikan dukungan keuangan dan kadang-kadang kembali untuk melihat anaknya.

Sekarang akhir tahun lima puluhan, pekerjaan yang langka di Jamaika, sehingga Bob mengikuti ibunya dari rumah mereka di St Ann Trenchtown (West Kingston) untuk mencari pekerjaan di kota besar. Trenchtown mendapatkan nama itu karena itu dibangun di atas parit yang menguras kotoran Kingston tua. Dalam Trenchtown Bob menghabiskan banyak waktunya dengan teman baik nya Livingstone Neville yang orang disebut dengan nama panggilannya, Bunny. Juga di kota besar Bob lebih terkena musik yang ia cintai, termasuk hebat seperti Fats Domino dan Ray Charles. Bob dan Kelinci menghadiri kelas musik bersama yang diadakan oleh Jamaika penyanyi terkenal Joe Higgs. Dalam kelas mereka bertemu Peter Macintosh dan segera menjadi teman baik.

Sejarah Perjalan Reggae di Indonesia

Reggae, seperti dikatakan etnomusikolog Jacob Edgar, merupakan jenis musik yang mudah beradaptasi dengan beragam lingkungan kultural.
Musik Reggae sebetulnya sudah lama digaungkan di Indonesia sekitar awal tahun 1980, dengan munculnya band Reggae Abreso dalam acara Reggae Night di Taman Impian Jaya Ancol.

Pada tahun 1986 band yang seluruhnya personil pemuda asal Papua ini pernah performing di Christmas Island selama tiga bulan yang diprakarsai oleh Yorries Raweyai. Pada tahun 1984 Abreso pernah rekaman lagu-lagu Reggae.
Selain itu, masih di era tahun 1980-an ada lagu “Dansa Reggae” yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar iringan musik oleh Willie Teuguh.
Lagu ciptaan Melky Goeslaw itu adalah salah satu lagu Reggae yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang kultural bisa ramai-ramai menikmati reggae. Dengar liriknya: “Orang Jawa bilang, ’monggo dansa reggae’!”

Virus Lombok i love you yang disebarkan Amtenar

Kata Sambutan ::: Virus Lombok I Love You yang ditularkan Amtenar

Ditulis oleh D'onk (Pemerhati musik indie lombok)...

Dulu kita hanya tau bahwa kalau ingin mendengar musik reggae atau ingin reggae party kita harus rela pergi jauh-jauh ke Gili Trawangan untuk ber-reggae party. Di Kota Mataram para penggila reggae sedikit mengalami kesulitan untuk mendapatkan soul itu, ditambah lagi suasananya tidak senyaman ber-reggae party dipinggiran pantai. Tapi semenjak Amtenar mengubah jalurnya untuk masuk kejenis aliran yang diusung oleh Bob Marley ini, kita sebagai penduduk yang agak sedikit jauh dari dunia pantai bisa ber-reggae party walau hanya di atas lapangan yang ber-rumput hijau bukan pasir pantai. Ini berkat sebuah event-event dari pihak EO/Sponsor untuk mengusung Amtenar sebagai band andalan dan Amtenar juga membuktikannya melalui aksi panggung mereka yang terkesan santai dan bersahabat kepada para penggemarnya.